18 Juni 2026 - 21:56
Meluasnya Kekerasan Sektarian di Suriah di Bawah Bayang-Bayang Pemerintahan Julani

Sejumlah wilayah di Suriah sedang mengalami gelombang kekerasan dan serangan bernuansa sektarian dengan dalih memberantas sisa-sisa pendukung pemerintahan Bashar al-Assad.

Kantor Berita Internasional Ahlulbait -ABNA-  Berbagai kota di Suriah menyaksikan meningkatnya aksi kekerasan dan serangan sektarian yang dibenarkan dengan alasan membersihkan negara dari para pendukung rezim Bashar al-Assad. Fenomena ini terjadi di tengah maraknya kampanye provokasi dan ujaran kebencian di media sosial yang dalam banyak kasus berubah menjadi bentuk "pembunuhan karakter" terhadap individu maupun komunitas tertentu. Serangan-serangan yang terjadi kemudian dibenarkan sebagai bentuk "balas dendam yang sah".

Berdasarkan laporan harian Lebanon Al-Akhbar, otoritas pemerintahan Julani berupaya mengendalikan situasi dengan menunjukkan pemahaman terhadap kemarahan masyarakat, sembari terus menjanjikan penuntutan dan pengadilan terhadap para pelaku pelanggaran.

Eksekusi Lapangan dan Tuduhan Massal

Bahaya terbesar dari situasi yang berkembang di berbagai wilayah pedesaan Idlib, Aleppo, Palmyra hingga Damaskus adalah meluasnya praktik pembunuhan lapangan secara terbuka di depan masyarakat.

Yang lebih mengkhawatirkan, tuduhan kini diarahkan secara umum kepada semua orang yang pernah tinggal di wilayah yang sebelumnya dikuasai pemerintahan Bashar al-Assad. Mereka diberi label sebagai "Shabihah" (milisi atau pendukung rezim Assad), sehingga berpotensi memperlebar jurang perpecahan dan memicu kekerasan yang lebih berdarah.

Dalam konteks ini, video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan tewasnya seorang warga yang dituduh sebagai anggota "Shabihah" di kota Kafr Takharim. Menurut laporan, korban meninggal akibat pemukulan brutal oleh sekelompok warga.

Kasus serupa juga terjadi di kota Kafr Awid, di mana seorang pemuda mengalami luka berat akibat serangan serupa.

Sementara itu, dua kota di pedesaan Idlib, yakni Urum al-Jawz dan Salqin, menjadi lokasi demonstrasi yang menuntut pengusiran warga yang dituduh bekerja sama dengan pemerintahan Bashar al-Assad.

Di kota Tal Rifaat di wilayah Aleppo, sejumlah rumah milik warga yang dituduh sebagai pendukung rezim lama juga dilaporkan menjadi sasaran serangan.

Upaya Meredakan Situasi

Menanggapi perkembangan tersebut, Kementerian Dalam Negeri pemerintahan Julani mengeluarkan pernyataan yang menegaskan bahwa pihaknya memantau dengan serius ketegangan yang terjadi di sejumlah wilayah Provinsi Idlib.

Kementerian itu menyatakan memahami tuntutan masyarakat yang menginginkan pengadilan terhadap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kejahatan yang terjadi selama masa pemerintahan Bashar al-Assad.

Pemerintah juga meminta warga yang memiliki bukti atau informasi terkait kejahatan dan pelanggaran untuk menyerahkannya kepada lembaga-lembaga resmi yang berwenang.

Dalam pernyataannya, kementerian menegaskan bahwa seluruh kasus akan ditangani melalui jalur hukum guna menjamin hak-hak para korban tanpa harus jatuh ke dalam kekacauan dan aksi balas dendam pribadi.

Gelombang Kekerasan Merambah Damaskus

Meskipun pemerintah berupaya meredakan situasi, gelombang kekerasan dan ketidakstabilan kini telah mencapai ibu kota, Damaskus.

Dua kawasan, yaitu Ash al-Wurur dan Mazzeh 86, menjadi lokasi serangan oleh kelompok-kelompok yang berkumpul di sekitar wilayah tersebut. Kerumunan itu terbentuk di tengah meningkatnya provokasi sektarian, khususnya yang ditujukan kepada komunitas Alawi. Pasukan keamanan pemerintahan Julani kemudian turun tangan dan membubarkan kelompok-kelompok tersebut.

Korban Kekerasan Sektarian

Menurut data yang dirilis Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia (SOHR), sejak awal tahun 2026 hingga kini sebanyak 105 warga Suriah telah dibunuh secara langsung karena motif sektarian dan keagamaan.

Korban-korban tersebut terdiri dari:

  • 77 warga Alawi

  • 12 warga Syiah

  • 7 warga Druze

  • 6 pengikut komunitas Mursyidiyah

  • 2 warga Kristen

  • 1 warga Ismailiyah

Lembaga tersebut menyatakan bahwa insiden-insiden ini terjadi di tengah situasi ketidakstabilan dan meningkatnya kampanye kebencian yang terus meluas di Suriah.

ISIS Memanfaatkan Kekacauan Keamanan

Di tengah rapuhnya situasi keamanan, kelompok ISIS juga dilaporkan meningkatkan aktivitasnya.

Kelompok tersebut mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap markas Komando Keamanan Dalam Negeri di kota Raqqa, Suriah utara.

ISIS menyatakan bahwa dua anggotanya menyerang markas tersebut pada hari Senin dan mengklaim telah menewaskan empat orang serta melukai sedikitnya dua orang lainnya.

Kelompok itu menyebut operasi tersebut sebagai serangan berani terhadap salah satu kawasan keamanan paling ketat yang menampung pusat-pusat utama keamanan pemerintahan Julani.

Menurut klaim ISIS, dua penyerang berhasil mencapai gerbang utama markas keamanan, masuk ke dalam kompleks, dan terlibat baku tembak dari jarak dekat dengan aparat yang berjaga.

Serangan ISIS di Damaskus

ISIS juga mengaku bertanggung jawab atas serangan terhadap kendaraan Kepala Pengadilan Kota Babila di pinggiran Damaskus.

Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui media resminya, ISIS mengklaim telah meledakkan bom pinggir jalan saat kendaraan pejabat tersebut melintas di kawasan Daff al-Shawk, selatan Damaskus.

Akibat ledakan itu, salah satu kaki korban dilaporkan putus.

Serangan ISIS Terus Meningkat

Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia melaporkan bahwa sejak 17 Februari 2026, ISIS telah melancarkan 54 serangan di berbagai wilayah Suriah. Serangan-serangan tersebut telah menewaskan 48 orang, baik warga sipil maupun personel militer, termasuk seorang pejabat keamanan diplomatik.

Provinsi Deir ez-Zor mencatat jumlah serangan terbanyak, yaitu 28 serangan dengan 14 korban tewas. Setelah itu, Aleppo dan Raqqa masing-masing mencatat 9 serangan, yang secara keseluruhan menyebabkan 26 korban jiwa.

Your Comment

You are replying to: .
captcha